Archive for the tradisional Category

Solo Batik Carnival IV

26 June 2011

Sabtu malam pada tanggal 25 Juni 2011 Kota Solo menjadi lautan manusia. Ribuan warga berdesak-desakan memadati “Teater Jalan” kebanggaan warga Solo, yang tak lain adalah jalan Slamet Riyadi.

SBC 2011

SBC 2011

Read the remainder of this entry »

Pasar Gawok

22 January 2010

Setelah kemaren nyempetin wat jalan-jalan mengitari pasar Gawok, timbulah niat wat ngepost tentang pasar yang satu ini. Pasar ini berlokasi di bagian barat Kabupaten Sukoharjo, tepatnya di Kecamatan Gatak. Bagi orang yang belum pernah kesini mungkin cukup sulit untuk menemukan pasar ini. Namun keramaian di pasar ini dapat dijadikan petunjuk penting untuk menemukannya, dan jangan lupa suatu peribahasa “malu bertanya sesat di jalan”. Titik kunci untuk menemukan pasar ini adalah stasiun Gawok. Stasiun ini dapat diakses dengan mudah dari jalan Solo-Yogya km 13, tepatnya bangjo pasar Sraten ke timur kurang lebih 3 km. Selain itu dapat juga melalui gapura Makamhaji ke selatan sampai mentok. Setelah dari stasiun Gawok, jalan lurus ke arah timur kurang lebih 2 km, lalu ambil kanan dan lurus, silahkan cari pusat keramaian di daerah situ, tentunya saat pon.

Pasar Gawok

Pande Besi

Pasar Gawok merupakan pasar tradisional yang buka tiap pon (hari pasaran menurut kalender jawa). Model pasar ini tidak menggunakan kios seperti pasar sekarang. Pasar ini menggunakan sistem los kios, jadi antara pedangang satu dengan yang lain tidak mempunyai batas yang pasti. Pasar ini pun merupakan pasar outdoor. Atap pasar ini hanyalah terpal yang dipasang oleh masing-masing pedagang, hanya sebagian kecil pedagang yang menggunakan atap permanen.

Pasar Gawok

Pasar Gawok

Di pasar ini terdapat berbagai macam pedagang, dari pedagang hewan, tanaman, obat-obatan hingga pandai besi. Khas dari pasar ini adalah pandai besi dan blanthik (pedagang hewan). Di pasar ini terdapat berbagai jenis hewan dan tumbuhan yang dijual, mulai dari sapi, kambing, burung, dan hewan piaraan lain seperti kelinci.

Pasar Gawok

Pasar Gawok

Reog @ Bragafest

27 December 2009

Sudah berulang kali aku liat reog di berbagai acara dan berbagai tempat. Termasuk reog di event Festival Seni di sepanjang Jl. Slamet Riadi, Surakarta. Acara yang semarak dan melelahkan, hanya itulah hal yang tergambar di benakku pada awalnya. Namun ternyata gambaran itu belumlah mencerminkan semua hal yang bercampur aduk di dalamnya.

reog

Reog

Braga Festival, itulah acara yang sedang berlangsung di Jl. Braga, Bandung. Selain stand-stand pakaian distro khas Bandung, ada juga perform kesenian dari berbagai pihak. Salah satunya adalah tim reog Singa Lodaya, salah satu komunitas pelestari kesenian reog di wilayah Bandung.

Tak terbayang sebelumnya aku dapet kesempatan wat ikut berpartisipasi di acara ini. Tawaran main pun tak ku sia-siakan. Rombongan reog datang sekitar pukul 12.00 siang. Kondisi saat itu acara inti, yaitu sambutan dari Walikota sudah berahir. Sehingga kondisi agak sepi, jadi membuat semangat menurun.

warok

warok

Setelah perform reog  berlangsung, respon dari pengunjung pun sangat mengejutkan. Banyak orang yang berada di acara tersebut ataupun orang yang sekedar lewat berantusias untuk mengikuti jalannya arak-arakan reog. Mata kamera pun berlomba-lomba membidik sasaran untuk mengabadikan momen tersebut. Penonton dari berbagai kalangan dan berbagai umur tak kalah antusias untuk mengabadikan kenangan dirinya disamping pemain reog.

Dari situ dapat dilihat bahwa sebenarnya warga Indonesia haus akan pertunjukan kesenian daerah. Hal itu tak mengherankan karena makin sedikitnya komunitas seni yang mau untuk melestarikan kesenian daerah. Kegiatan kesenian seperti itu dianggap tak mampu mengangkat kesejahteraan pemaiinya. Namun apabila setiap orang berpikir seperti itu, bagaimana nasib kebudayaan Indonesia?? Haruskah negara lain yang melestarikannya??

arak-arakan reog

arak-arakan reog